Corat-coret

Nyookk ngomongin hal-hal ngak penting :)

20 Jam Menanti Nazaruddin

Posted in Ngomyang on 14 Agustus 2011 by Nila Chrisna

menunggu sambil tidur dan foto :)

menunggu sambil tidur dan foto :)

Muhammad Nazaruddin, nama paling populer se Tanah Air. Buronan paling terkenal dan dicari. Senang rasanya aku bisa ikut ambil bagian menyaksikan detik-detik kedatangan Nazaruddin dan menyampaikannya ke publik pada Sabtu, 13 Agustus 2011.

Eits, tapi untuk mendapatkan moment itu bukan tanpa perjuangan loh..

Sejak polisi dan beberapa sumber mengatakan “burung” Nazar sudah terbang dari Cartagena, Kolombia menuju Jakarta, para jurnalis sudah ambil ancang-ancang. VIVAnews.com sudah membentuk tim peliput kedatangan buronan polisi sedunia itu.

Sayang banget namaku tidak masuk dalam daftar tim. Hal itu karena jadwalku libur minggu ini. Ternyata, tim yang telah dibentuk itu masih keteteran, akhirnya aku ikut juga dalam tim. Saat melihat jadwal pembagian liputan, rupanya koordinator liputan sudah menugaskan seorang reporter di Bandara Halim Perdana Kusuma pada Jumat pukul 00.00 WIB. Dasyaaat!

Jurnalis menunggu kedatangan Nazaruddin

Jurnalis menunggu kedatangan Nazaruddin

Tak cuma di Halim. Beberapa reporter disebar di beberapa tempat. Markas Besar Kepolisian RI, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Markas Komando Brimob di Kelapa Dua sudah dijaga reporter sejak Sabtu, pukul 04.00 WIB.

Tak cuma itu, rupanya redaksi tak mau “kecolongan” seperti halnya pemulangan teroris yang kepalanya dihargai jutaan dolar oleh Amerika, Umar Patek. Bandara Soekarno-Hatta, dan Bandara di Bandung pun tak luput dari pantauan sejak saur. Ini dilakukan, untuk mewaspadai berbagai kemungkinan. Meski informasi yang beredar Nazar dipastikan mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma.

Aku bisa bayangkan teman-teman wartawan yang menunggu sejak subuh di Halim. Kedinginan, banyak nyamuk dan harus selalu waspada memasang radar untuk memantau setiap peristiwa di sekitar Bandara meski lelah dan ngantuk.

Peristiwa apapun bisa menjadi berita malam itu. Redaksi tau, tak cuma wartawan yang menunggu kedatangan Nazar, tapi juga masyarakat. So, setiap perkembangan disampaikan ke publik.

Bukan jatahku meliput tengah malam hingga dini hari itu, jadi aku tak bisa gambarkan bagaimana situasinya. Aku baru datang pukul 14.00 WIB untuk menggantikan seorang teman yang menjaga Halim sejak pukul 06.00 WIB. Beruntung, VIVAnews sering mengganti reporter untuk menjaga Halim. Itu untuk menjaga kondisi badan reporternya, supaya liputan bisa maksimal.

Menunggu sambil "tidur siang"

Menunggu sambil "tidur siang"

Aku sampai di Halim dan menemukan pemandangan “memprihatinkan” haha. Melihat teman-teman wartawan dengan wajah lelah dan kucel, tapi mereka tetap saja semangat menunggu. Aku heran, sepertinya mereka tidak peduli dengan kelelahan itu. Bercanda dan gelak tawa satu-satunya cara yang mereka gunakan untuk membunuh waktu. Tanpa teh, roti, dan rokok karena bulan ini adalah bulan puasa. Saluut deh!

Bercanda sambil mereportase setiap perkembangan. Itu dilakukan hingga pukul 18.30 WIB yang akhirnya kami mendapat kabar bahwa ‘burung’ Nazar sudah memasuki langit Indonesia. Waaahh mulai deg-degan menunggu detik-detik akhir penantian.

Akhirnya pukul 19.00 WIB wartawan sudah diperbolehkan masuk ke dalam lapangan landasan pesawat. Mereka dan aku lari berebut masuk supaya mendapatkan tempat yang pas untuk melihat kedatangan Nazar. Semakin deg-degan.

Beberapa pesawat melintasi langit Halim. “Itu bukan ya?,” kata beberapa wartawan yang penasaran. Ternyata pesawat capung.

Pesawat kedua (sayaang aku tidak paham jenis-jenis pesawat) datang mendarat pelan-pelan. “Nah ini kali, yah bener nih,” kata seorang wartawan lagi. Tapi kok polisi yang sudah stand by masih anteng aja, belum bergerak. “Ahh berarti bukan,” pikirku.

Waahh semakin deg-degan!

Wuuzzz satu lagi pesawat agak kecil dibanding pesawat tadi mendarat pukul 19.45 WIB. Kameraman, fotografer dan wartawan tersedot perhatiannya ke pesawat itu. Polisi mulai bergerak. Alhamdulillah, datang juga. Itu to pesawat yang harga sewanya saja 4 Milyar rupiah. Gilaaa!

Pesawat paling mewah yang pernah aku liat. Meski cuma lihat dari kejauhan karena wartawan, juru foto dan kameraman dilarang mendekat.

Pintu pesawat mulai terbuka. Semua mata tertuju pada pemandangan yang ada di dalam pesawat. Mana Nazaruddin?

Lamaaaaa sekali menunggu sesosok pria berwajah ke Arab-araban itu keluar. Nah lo.. Akhirnya dia keluar. “Udiinn..Udiinn,” teriak wartawan.

Nazaruddin langsung masuk ke dalam mobil yang parkir dekat sekali dengan pesawat. Kami para jurnalis tak bisa lama-lama melihat dia. Reportase..reportase..reportasee. Detik-detik keluarnya Nazaruddin.

Dan selesai..

Akhirnya setelah 20 jam penantian, Nazaruddin “Tercinta” datang juga.

Kriiiiinngg.. Hapeku berdering. “Nila, ikutin mobil Nazar,” suara korlip diujung telpon. Gubrraaakkk..!! Belum selesai rupanya tugasku.

Ditengah jalan.. “Kriiiingg..,” hapeku bunyi lagi. “Ke mabes aja ya,” kata redaktur. Huft.. Ga jelas.

Beberapa saat kemudian. “Kriiiingg..,” bunyi lagi. “Nila ke mabes aja ya,” kata redaktur di ujung telepon. Jiiaahhhh lembur deh..

Juru bicara Polri mengatakan, Nazaruddin akan langsung dibawa ke Markas Komando Brimob untuk cek kesehatan. Setelah dari Mako Brimob akan dibawa ke KPK. Waaaahh untumg tidak ke Mabes. Selamet deh nggak dikirim ke KPK hehehe..

Puji Tuhan, Alhamdulilah semua lancar ;)

Mawar di Pinggir Matraman

Posted in Ngomyang on 14 Agustus 2011 by Nila Chrisna
Mawar

Mawar

Pagi telah merampok malam. Sebentar lagi bedug subuh berkumandang. Aku baru akan pulang ke Kampung Melayu. Dini hari itu dingin sekali. Perutku terasa lapar. Sebelum sampai kos kami masing-masing aku dan seorang teman ku mampir di salah satu warung tenda di Matraman Raya. Sambil terkantuk-kantuk aku dan dia menikmati roti bakar coklat dan segelas susu hangat.

Yah namanya Jakarta, kota yang tak pernah tidur. Sedini itupun masih ramai. Sirine mobil pemadam kebakaran berisik sekali. Tak hanya satu tapi beberapa mobil pemadam susul menyusul. Katanya ada kebakaran di daerah Pramuka. „Wow pasti kebakaran besar“, pikirku.

Tak lama kemudian dua laki-laki tinggi besar bergamis bolak-balik melewati tenda tempat kami makan sambil memegang tasbih di tangannya. Entah apa yang mereka cari. Ibu paruh baya yang melayani kami tadi berteriak „Come here habibi“. Salah seorang dari mereka pun mampir ke warung tenda. Dengan cekatan ibu itu segera membuatkan roti selai stroberi kepada pria Arab tadi.

Seorang gadis belia malu-malu duduk di dekat pria itu. Anggap saja Mawar namanya. “Udah dijadiin aje, gede banget boo jarang-jarang gue dapet yang begituan” bujuk Mawar setengah berteriak kepada ibunya. Aku tidak tau pasti siapa wanita yang tengah sibuk memagang roti itu. Entah ibunya, tantenya, budenya, atau tetangga Mawar yang jelas ia mucikarinya. “Iye tunggu dulu dong nabsu amat. Dijadiin dulu ni harganye” sahut ibu itu.

Aku tidak ingat betul bagaimana mereka bertransaksi. Aku hanya ingat negosiasi harganya sangat alot. Dengan bahasa Inggris amburadul ala betawi, ibu itu ngotot bahwa harga enam ratus ribu itu bukan untuk threesome. Tapi pria Arab itu ogah, terlalu mahal katanya. Aku mendengarkan dengan seksama bagaimana tawar menawar itu berlangsung.

Temanku mengajakku pulang karena sudah subuh dan besok harus bekerja. Aku ingin tinggal sebentar lagi, menyaksikan deal antara mereka. Aku ingin tahu berapa harga Mawar. Meski mataku tinggal separuh tapi aku tetap nekat bertahan. Lamaaaaa sekali aku menunggu. Akhirnya kesepakatan datang juga. Kalau tidak salah ingat mereka sepakat dengan harga empat ratus lima puluh ribu selama dua jam tanpa threesome.
Untuk pria arab itu mungkin terlalu mahal. Tapi bagiku, murah sekali!!

Dengan meninggalkan senyum kecil, aku beranjak dari tempat itu. Berfikir semurah itukah harga diri seorang perempuan?
Mungkin yang aku saksikan ini belum seberapa murah ketimbang harga gadis-gadis lain yang di jual jauh lebih murah. Mungkin pula Mawar sukarela menjalani pekerjaan ini. Tapi di luar sana banyak sekali Mawar-mawar lain menganggap malam adalah neraka bagi mereka. Ya mungkin…

Felling Blue

Posted in Ngomyang on 11 Juli 2010 by Nila Chrisna

Felling Blue

Felling Blue

Semburat cahaya menerobos masuk kamarku melalui sela-sela tirai. Bertanda pagi datang dan matahari pun bertandang. Aku masih beringsut dalam selimut. Enggan rasanya beranjak dari kasur beralaskan seprei kusut. Mimpi-mimpi indah semalam pun jadi ciut. Ada perasaan bergejolak pagi itu. Perasaan aneh yang membuatku tak nyaman. Setiap pagi selalu kuawali dengan menarik nafas dalam-dalam. Lalu kuhembuskan. Terciptalah helaan yang berat. Berharap perasaan ganjil itu menguap sekelebat.

Senin pagi, selasa pagi hingga jumat pagi rasa aneh itu tak pergi-pergi. Setiap pagi berulang-ulang. Bosan rasanya. Ya ya rasa tak nyaman itu selalu datang ketika pagi-pagi aku berfikir: mau kemana hari ini?

Perasaan dimana dalam hatiku langit mendung dengan sinis melirik meski matahari bersinar terik. Rasa itulah yang timbul ketika melakukan sesuatu yang tak ku suka. Suatu kegiatan yang ku lakukan setengah hati. Temanku selalu berkata padaku “nikmati saja”. Ya menikmati perasaan aneh itu? Perasaan yang membuat wajah ku selalu tampak kuyu dan layu?

Andai benar kata orang bahwa hidup itu pilihan. Mungkin aku akan memilih jalan lain. Dimana tak akan aku jumpai perasaan-perasaan aneh itu. Jika perasaan itu mungucur enggan rasanya melepas kasur. Teringat lagu “Gone” milik The Cure semangatku pun tak lagi kendur. Mengajakku mencari keasyikan-keasyikan kecil diantara keganjilan yang tak sehat. Agar aku tak melewatkan apapun yang terjadi ketika dunia mulai menggeliat.

“Gone”

Oh you know how it is
wake up feeling blue
and everything that could be wrong is
including you
black clouds and rain and pain in your head
and all you want to do is stay in bed

But if you do that you’ll be missing the world
because it doesn’t stop turning whatever you heard
if you do that you’ll be missing the world
you have to get up get out and get gone!

Yeah you know how it is
wake up feeling green
sick as a dog and six times as mean
you don’t want to sing you don’t want to play
you don’t want to swing you don’t want to sway
all you want to do is nothing
on a day like today

But if you do that you ‘ll be missing the world
because it doesn’t stop turning whatever you heard
if you do that you’ll be missing the world
You have to get up get out and get gone!
yeah get up get out and get some fun
you have to get up get out and get gone!
yeah get up get out and get gone!
get up get out and get gone!
you have to get up get out and get living
yeah this is really it…

So you know how it is
wake up feeling grey
nothing much to think and nothing much to say
don’t want to talk don’t want to try
don’t want to think don’t want to know
who what where when or why…

Oh but you do that and you’re missing the world
yeah it’s happening right now whatever you heard
you do that and you’re missing the world
you have to get up get out and get gone!
yeah get up get out and have some fun
you have to get up get out and get gone!
yeah get up get out and get it on
get up get out and get gone!
you have to get up get out and get living

Ciaaaaaaaaaatttt SEMANGAT!!

Kampung Melayu

Juli, 2010

Juli

Posted in Ngomyang on 10 Juli 2010 by Nila Chrisna

Hujan Bulan Juli

Hujan Bulan Juli

Langit masih saja tak konsisten. Kadang suka sekali memproduksi gumpalan abu-abu berlapis-lapis. Kemudian mengubahnya menjadi hujan. Membuat kehidupan menjadi semakin berat sepanjang tahun ini. Ya ya Juli, bulan yang seharusnya penuh cahaya.

Mungkin Juli adalah bulan paling kejam tahun ini. Ketika Juli baru saja datang tiba-tiba ia mengambil sahabatku. Memindahkan sahabatku ke kota lain. Jauh dariku yang entah kapan kami bertemu lagi. Juli membuatku tak bisa lagi berbagi khayal bersama sahabatku. Khayalan yang jauh dari nyata itu kini luntur tersiram hujan.

Tak hanya itu, Juli juga membuatku tak napsu makan beberapa hari ini. Memikirkan apa yang akan terjadi di tengah Juli. Meeting Nasional membuatku seperti hidup dalam penjara. Ah bukan penjara, tepatnya tempat pengasingan.

Para petinggi di kantorku memilih puncak sebagai tempat pertemuan nasional itu. Semua kolega di seluruh Indonesia bertemu di tempat itu. Bagiku itu bukan pertemuan, tapi semacam penyiksaan nasional (hahaha lebay). Aku tak pernah ingat apa materi pertemuan-pertemuan nasional sebelumnya. Aku hanya ingat saat itu kami hanya duduk di meja berbentuk U dan tidur dini hari. Kemudian kami wajib bangun pagi-pagi.

Peristiwa yang terus terulang setiap enam bulan sekali ini membuat perasaan tak karuan. Entah kenapa. Bukan rasa yang nyaman, senang atau kerabat-kerabatnya. Namun, ingin sekali rasanya melarikan diri.

Juli, juli.. hujan dan rangkaian peristiwa yang kau siapkan bagiku tetap harus kulewati tampaknya.

Kampung Melayu

Juli, 2010

Wanted: Mr. Right (Part II)

Posted in Kontemplasi on 10 Juli 2010 by Nila Chrisna

stokelymain-420x01

Ada sebuah kalimat yang paling aku suka dalam Wanted Mr. Right ini, Folger si pengarang menulis ”Kadang kita melewati masa sulit adalah hal yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, Allah menggunakan semua ‘sampah’ ini untuk membangun karakter, ketekunan, kesabaran dan lain sebagainya”. Aku merasa lega atas pernyataan Folger ini. Semoga apa yang aku alami ini benar-benar bisa membentuk karakter, ketekunan, kesabaran dan segala hal yang ada padaku.

Gunakan kesempatandan laksanakan tugas-tugas yang di berikan Allah untuk kita semaksimal mungkin, itu sangat menguntungkan untuk kita. Dan berhentilah menangis. Berdoalah, memintalah yang terjadi adalah kehendak Allah, kemudian melakukan apa yang diberikan Allah dan jangan membuang waktu untuk menangisi sesuatu, dengan ini kita akan melakukan hal yang luar biasa. Saat kita melakukan itu semua, Allah juga bekerja untuk merencanakan hal besar untuk kita.

Kembali lagi ke pertanyaan, apa yang kamu lakukan terhadap kaus bekas pacarmu?

Jika jawabanmu C (digunakan untuk membersihkan kotoran di lemari es), wah ternyata kamu masih memikirkannya, walaupun itu dengan emosi. Hati-hati darah tinggi. Dalam buku ini, Folger menggunakan analogi Sepeda, untuk seseorang yang mendapati diri terus menerus memikirkan Mr. Wrong. Ini lah analogi itu:

Sepeda

Ada seorang gadis cilik yang tidak memuliki sepeda

Suatu hari ia pergi ketempat penjualan barang bekas diujung jalan bersama ayahnya dan melihat sebuah sepeda dijual disana

Cuma sepuluh dolar (jika dirupiahkan dengan mengambil nilai 1$: Rp.10.000, maka harga sepeda itu hanya Rp. 100.000,-)

Tak bisa dipercaya, ada sepeda semurah itu

Tentu saja sepeda itu berkarat dan stangnya bengkok, pedal sudah tidak bisa deigunakan, ban belakang kempes. Ouch..complicated. lagi pula harganya hanya 10$ dan tidak ada alasan ayahnya menolak untuk membelikan sepeda itu

Ulang tahun gadis itu dua minggu lagi, dan ia sangat menginginkan sepeda itu

Ayahnya berkata, TIDAK!!

Bagaimana mungkin ayahnya tidak mau memberikan hal sepele itu?

Bagaimana mungkin ayahnya berkata tidak untuk keinginan anaknya, apalagi sepeda itu sangat murah?

Ia tidak tahu bahwa ayahnya telah membelikannya sepeda baru yang mengkilap dan dihiasi pita merah, disembunyikan dibawah selimut di garasi-hadiah ulang tahunnya

Gadis itu hanya dapat menganggap bahwa hal itu tidak adil.

ya ayahku mengatakan bahwa ia mencintaiku, tapi kenapa ia tidak mau memberiku apa yang aku inginkan-sesuatu yang bisa membuatku senang?

Jadi selama dua minggu berikutnya gadis itu jalan ke sekolah, sementara teman-temannya melewatinya sambil naik sepeda, dengan pita setang yang melambai-lambai. Ya tampak semua orang bahagia kecuali dia. Semua orang memiliki sepeda, kecuali dia. Dan itu adalah dua minggu yang sangat, sangat panjang.

Apa pilihannya?

Ia bisa mengumbar kemarahan selama dua minggu dan mengatakan kepada ayahnya betapa tidak adilnya ia.

Atau setelah memohon dengan sangat, ia bisa mempercayai ayahnya dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia mempunyai ayah yang sangat mencintainya dan sudah melakukan banyak hal untuknya.

Ia bisa memilih tidak melewati tempat penjual barang bekas setiap harinya dengan mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah dimilikinya, dan mulai memusatkan perhatian apa apa yang telah dimilikiny. Misalnya, bermain softball, tiba-tiba hidupnya tidak lagi berpusat pada apakah ia punya sepeda atau tidak.

Ketika ia memusatkan perhatian pada hal lain, dua minggu akan terasa sangat cepat dan tibalah saatnya bagi sang ayah yang penuh kasih untuk membuka selimut yang menutupi sepeda yang mengkilap, pita dan bel yang mengkilap, serta keranjang berwarna biru putuh pada bagian depan, dengan stang yang lurus, pedel yang bisa digunakan dan tinggi sepeda itu pas untuknya.

Inilah yang diinginkan Tuhan bagi kita, bukan barang bekas istimewa. Sementara kita mengeluh tentang sepeda bekas berkarat, Allah menyediakan hal yang jauh lebih baik dari itu semua. Kita hanya perlu mempercayai apa yang disimpannya untuk kita.

So, mulailah lupakan Mr.Wrong dan berpusatlah pada apa yang kita punya, walaupun itu adalah hal kecil seperti yang dilakukan gadis kecil tadi: bermain softball, sebenaranya itu hal yang menyenangkan ketimbang memikirkan sepeda. Tentu saja kita tidak akan bermain softball, fokuslah terhadap keluarga yang mencintai kita, teman-teman pekerjaan, sekecil apapun pekerjaan itu. Folger juga menyebutkan jika kita setia pada hal-hal kecil, Allah akan mempercayakan banyak hal pada kita.

Aku percaya!!

Sekarang Saatnya ubah fokus.

Fokus pada Allah, bukan pada manusia: Ikutlah Dia dan Dia akan mengurus segala sesuatunya

Untuk kita: Hidup ini penuh dengan kesenang-senangan sederhana.

Kampung Melayu

Juli 2010